Senin, 15 April 2013

Sinopsis "Memotret Khatulistiwa"



Buku Memotret Khatulistiwa

Membaca buku “Memotret Khatulistiwa” memacu otak kita untuk berpikir mengenai menjadi seorang Jurnalis. Menjadi seorang jurnalis adalah pekerjaan yang susah-susah gampang tapi melelahkan dan seru tentunya. Seorang jurnalis harus siap kapan pun, dimana pun, disaat apapun dan dalam kondisi apapun saat mencari sebuah informasi. Ibarat televisi, harus selalu dalam posisi stand by dan ketika menekan tombol remote satu kali sudah langsung nyala. Namun, dibalik itu semua banyak hal-hal baru yang dapat kita temui, Itulah pengalaman. Pengalaman adalah guru terbaik sepanjang masa, sesuatu yang tidak dapat dibeli atau digantikan oleh apapun didunia ini.
Hal itu lah yang dapat saya lihat dari seorang jurnalis benama Syaiful Halim, dari buku yang ditulisnya “Memotret Khatulistiwa.” Buku ini banyak memberikan informasi mengenai pengalaman-pengalaman seorang jurnalis dalam membuat suatu karya. Karya berupa sebuah film dokumenter yang mengangkat hal-hal yang mungkin mulai terkikis dan terlupakan dari rakyat Indonesia dan dari kekayaan indonesia.
Penulis
Buku ini juga menawarkan empat hal utama, yaitu feature bergenre laporan perjalanan yang murni petualangan, catatan atau produksi film documenter, sekilas etnografi atau penggambaran wajah suku – suku atau etnik di Tanah Air ( kajian ilmu Antropologi) dan pelukisan situs – situs arkeologis dipelosok negeri (kajian ilmu Arkeologi)
Namun yang ingin saya bahas disini bukanlah tentang pengalaman itu, tetapi hasil yang didapat dari pengalaman yang begitu beharga. Karena pengalaman adalah bagian dari proses menuju kesuksesan pencapaian suatu karya, tentunya karya yang dihasilkan bukan karya yang biasa. Tapi karya yang luar biasa.
Film dokumenter yang ingin dihasilkan oleh seorang jurnalis seperti Syaiful Halim tentunya berkualitas dan juga memiliki makna dan informasi yang harus sampai kepada khalayak yang haus akan berita. Untuk itu film dokumenter pun harus mengandung nilai estetika, drama, dan informasi.
Estetika adalah hal yang bekaitan dengan keindahan gambar menurut objek atau teknis pengambilan gambar. Drama menyangkut momen menarik yang dilakukan oleh objek dan kecekatan merekamnya. Sedangkan Informasi cenderung mengungkap data atau pesan yang memang sudah dirancang oleh filmmaker.
Pada bagian scene pembuka misalnya, unsur estetika dan drama disatukan agar kemasan sebuah film menjadi menarik, hal itu bertujuan untuk memberikan umpan kepada penonton agar lebih tertarik dan untuk menambah minat penonton terhadap film yang dibuat. Angle pengambilan gambar pun juga harus diperhatikan, kameramen harus mengerti angle yang seperti apa yang akan meghasilkan gambar yang lebih dramatis, sehingga gambar benar-benar dapat mencerminkan kejadian yang sesungguhnya.
Ketika membuat film dokumenter tentunya narasumber berperan penting dalam memberikan informasi yang dibutuhkan. Namun terkadang batasan durasi saat narasumber berbicara didepan kamera hanya akan memenggal informasi-informasi penting dan pemaksaan pesan melalui narasi. Tidak dipungkiri juga bila terlalu lama “memampang” wajah narasumber akan membuat penonton menjadi bosan. Memasukan penggalan gambar ditengah wawancara (visual insert).
Setela kutipan-kutipan wawancara dikumpulkan barulah kemudian penulisan postproduction treatment script. Si penulis naskah harus kembali mengingat momen-momen yang telah didapatkannya selama proses pembuatan film dilakukan. Terkadang pola kerja ala cinema veritee atau direct film harus dilakukan.
Naskah bukan hanya uraian yang berbuih-buih. Tapi juga menghadirkan rencana gambar dan suara secara sequence by sequenc sehingga menjadi sequence bukan scene. Disana, harus diperlihatkan bagian mana musik illustrasi dihadirkan, efek suara dimunculkan, dan natural sound dimaksimalkan. Disana juga harus ditunjukkan juga, dibagian mana terjadi transisi, kapan efek transisi dibuat, dan bagaimana flow cerita diatur.
Pola struktur naratif, dengan pembukaan, pengembangan, dan penutup sudah menjadi hal yang standar. Terlebih lagi bila menjadikan narasi sebagai alat cerita. Tujuannya untuk menghadirkan dua premis dengan dua struktur cerita. Sebenarnya seorang filmmaker telah merancang pola dramatiknya. Karena penonton pun ditantang untuk menebak akhir atau klimaks film dokumenter tersebut.
Begitu panjang proses yang harus dilakukan untuk mengasilkan sebuah film dokumenter yang berkualitas, melibatkan banyak pihak dan banyak tempat. Oleh sebab itu kerjasama didalam tim sangat berpengaruh terhadap keberhasilan suatu karya yang dibuat. Menyatukan berbagai ide dan cara perpikir yang berbeda adalah hal yang sangat sulit, karena itu kameramen, sutradara dan bagian editing harus solid
Menurut Syaiful Halim, membuat sebuah film dokumenter dengan tema apapun sebenarnya bukan hal sulit. Namun ketika sebuah film dokumenter yang disiapkan adalah untuk sebuah program televisi yang biasanya dikawal oleh frame atau pakem tertentu maka itu menjadi hal yang sulit bagi filmmaker.