Senin, 23 Maret 2009

Mazhab - Mazhab dalam Filsafat

Setelah beberapa jam mengetik, akhirnya selesai juga sebuah tugas filsafat yang membahas tentang Mazhab-Mazhab Filsafat..

FILSAFAT MASA KONTEMPORER

Filsafat Kontemporer (abad XX) sangat heterogen. Hal ini disebabkan antara lain karena profesionalisme yang semakin besar.banyak filsuf adalah spesialis bidang khusus seperti matematika, fisika, psikologi, sosiologi, atau ekonomi.

Hal penting yang patut dicatat adalah bahwa pada abad XX pemikiran-pemikiran lama dihidupkan kembali. Misalnya, Neotomisme, Neokantianisme, Neopositivisme, dan sebagainya. Di masa ini Prancis, Inggris, dan Jerman tetap merupakan negara-negara yang paling depan dalam filsafat. Umumnya, orang membagikan filsafat pada periode ini menjadi filsafat kontinental (Prancis dan Jerman) dan filsafat Anglosakson (Inggris).

Aliran-aliran terpenting yang berkembang dan berpengaruh pada abad XX adalah Pragmatisme, Vitalisme, fenomenologi, Eksistensialisme, filsafat analistis (filsafat bahasa), strukturalisme, dan postmodernisme.

A. PRAGMATISME

Pragmatisme mengajarkan bahwa yang benar adalah apa yang akibat-akibatnya bermanfaat secara praktis. Jadi, patokan pragmatisme adalah manfaat bagi kehidupan praktis. Kebenaran mistis diterima, asal bermanfaat praktis. Pengalaman pribadi yang benar adalah pengalaman yang bermanfaat praktis.

Aliran ini sangat populer di Amerika Serikat. Tokoh-tokohnya yang terpenting adalah William James (1842-1910) dan John Dewey (1859-1952).

B. VITALISME

Vitalisme berpandangan bahwa kegiatan organisme hidup digerakkan oleh daya atau prinsip vital yang berbeda dengan daya-daya fisik. Aliran ini timbul sebagai reaksi terhadap perkembangan ilmu dan teknologi serta industrialisasi, di mana segala sesuatu dapat dianalisa secara sistematis.

Tokoh terpenting vitalisme adalah filsuf Prancis, Henri Bergonson (1859-1941).

C. FENOMENOLOGI

Fenomenologi berasal dari kata fenomenon yang berarti gejala atau apa yang tampak. Jadi , fenomenologi adalah aliran yang membicarakan fenomena atau segalanya sejauh mereka tampak. Fenomenologi dirintis oleh Edmund Husserl (1858-1938). Seorang fenomenolog lainnya adalah Max Scheler (1874-1928)

D. EKSISTENSIALISME

Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang memandang segala gejala dengan berpangkal pada eksistensi. Eksistensi adalah cara berada di dunia. Cara berada manusia di dunia berbeda dengan cara berada makhluk-makhluk lain.

Benda mati dan hewan tidak menyadari keberadaannya, tapi manusia sadar bahwa dia berada di dunia. Manusia sadar bahwa ia bereksistensi. Itulah sebabnya, segalanya, segalanya mempunyai arti sejauh berkaitan dengan manusia. Dengan kata lain, manusia memberi arti kepada segalanya. Manusia menentukan perbuatannya sendiri. Ia memahami diri sebagai pribadi yang bereksistensi.

Jadi, eksistensialisme berpandangan bahwa pada manusia eksistensi mendahului esensi (hakekat), sebaliknya pada benda-benda lain esensi mendahului eksistensi. Manusia berada lalu menentukan diri sendiri menurut proyeksinya sendiri. Hidupnya tidak ditentukan lebih dulu. Sebaliknya, benda-benda lain bertindak menurut esensi atau kodrat yang memang tak dapat dielakkan.

Tokoh-tokoh terpenting eksistensialisme adalah Martin Heidegger (1883-1976), Jean-Paul Sarte (1905-1980), Karl Jaspers (1883-1969), dan Gabriel Marcel (1889-1973). Soren Kierkegaard (1813-1855), Friedrich Nietzsche (1844-1900), Nicolas Alexandrovitc Berdyaev (1874-1948) juga sering dimasukkan ke dalam kelompok filsuf-filsuf eksistensialis.

Patut dicatat bahwa sebetulnya di antara para filsuf eksistensialis terdapat perbedaan. Sebagian mereka bahkan tidak mau dikelompokkan sebagai filsuf eksistensialis. Akan tetapi mereka semua mempunyai kesamaan pandangan bahwa filsafat harus bertitik tolak pada manusia konkret, manusia yang bereksistensi. Dalam kaitan dengan ini mereka berpandapat bahwa pada manusia eksistensi mendahului esensi (Fuad Hassan, 1985: 7-8)

Sebagian filsuf eksistensialis adalah ateis, seperti Jean-Paul Sartre, tetapi ada yang tetap mengakui ALLAH, seperti Gabriel Marcel.

Jean-Paul Sartre adalah stu-satunya filsuf kontemporer yang menempatkan kebebasan pada titik yang sangat ekstrim. Dia berpendapat bahwa manusia itu bebas atau sama sekali tidak bebas. Tentang kebebasan, Sartre mengatakan : “Manusia bebas. Manusia adalah kebebasan.” Dalam sejarah filsafat tidak pernah ada ungkapan begitu ekstrim tentang kebebasan. Sartre tidak memandang kebebasan sebagai sebab salah satu ciri manusia, tapi menganggap manusia sebagai kebebasan.

Ini ada kaitan dengan pandangan tentang eksistensi (cara berada). Sartre membedakan dua macam cara berada, yakni etre-en-soi (berada dalam diri sendiri) dan etre-pour-soi (berada untuk diri). Ertre-en-soi adalah cara berada yang deterministik. Itu merupakan cara berada benda-benda mati, hewan, dan tumbuhan. Pohon, misalnya tumbuh sebagai pohon jenis tertentu, dengan bakat tertentu. Sampai kapan dan di manapun pohon itu akan tetap yang sama, tidak akan meninggalkan kodrat. Batu, dari kodratnya telah ditentukan sebagai benda yang keras, dan sebab itu akan tetap seperti itu sampai kapanpun. Jadi, cara berada ini sudah ditentukan kodrat.

Sebaliknya, Etre-pour-soi adalah cara berada khas manusia. Artinya, manusia ada dulu baru menentukan diri sendiri. Dirinya tidak pernah ditentukan lebih dulu. Manusia ada begitu saja, dan baru sesudah itu manusia menentukan apa yang harus dilakukannya. Hanya manusia dapat mengatakan “tidak”, benda-benda lain selalu berada menurut esensi atau kodrat yang telah ditentukan. Karena tidak ditentukan sebelumnya, maka manusia bertanggungjawab terhadap keberadaannya.

Konsep kebebasan seperti ini membawa Sartre kepada penolakan akan adanya ALLAH. Menurut Sartre, jika ada ALLAH maka manusia tidak bebas lagi, sebab ALLAH sudah menentukan esensi manusia. Pisau yang dibuat tukang, kata Sartre, sudah ada dalam konsep tukang yang membuatnya sebelum pisau itu hadir dalam bentuk tertentu. Dalam pikirannya, tukang sudah memikirkan bahwa pisau itu terbuat dari baja atau besi, tajam, berujung runcing, diberi gagang tanduk rusa, digunakan untuk memotng daging atau mencukur rambut dan ciri-ciri lainnya. Itulah esensi pisau yang ada dikepal tukang sebelum pisau itu betul-betul hadir dalam wujudnya yang tertentu.

Kalau ada ALLAH, kata Sartre, maka ALLAH pasti sudah mengetahui esensi manusia. Itu berarti, manusia tidak bebas lagi. Manusia akan melakukan apa yang sudah ditentukan ALLAH itu. Tapi itu tidak mungkin sebab pada manusia eksistensi mendahului esensi. Sebab itu tidak ada ALLAH.

Menurut Sartre, manusia tidak mempunya kodrat. Ia ada begitu saja, baru sesudahnya ia membuat kodratnya sendiri. Mengapa ? Karena memang tidak ada ALLAH yang mengkonsepkan kodrat itu.

Manusia tidak mempunyai kewajiban terhadap sesuatu yang lain, kecuali dirinya sendiri. Seandainya ALLAH ada, manusia kehilangan martabat manusianya. Maka mustahil bahwa ALLAH dan manusia ada berdampingan. Manusia yang hanya merupakan alat di tangan ALLAH, kata Sartre, bukan manusia bebas.

Dalam bukunya Existentialism and Humanism Sartre memberikan tanggapan kepada orang-orang yang mengatakan bahwa eksistensialisme adalah ateisme. Sartre mengatakan bahwa eksistensialisme sama sekali bukan ateisme yang menolak adanya ALLAH. Seandainya ALLAH ada, itu samasekali tidak bakal mengubah apa-apa.

E. FILSAFAT ANALITIS

Aliran ini muncul di Inggris dan Amerika Serikat sejak sekitar tahun 1950. Filsafat analitis disebut juga filsafat bahasa. Ini merupakan reaksi terhadap idealisme, khususnya Neohegelianisme di Inggris. Para penganutnya menyibukkan diri dengan analisa bahasa dan konsep-konsep. Tokoh-tokohnya yang terpenting adalah Bertrand Russel, Ludwig Wittgenstein (1889-1951), Gilbert Ryle, dan John Langshaw Austin.

F. STRUKTURALISME

Strukturalisme muncul di Prancis tahun 1960, dan dikenal pula dalam linguistik, psikiatri, dan sosiologi. Strukturalisme pada daswarnya menegaskan bahwa masyarakat dan kebudayaan memiliki struktur yang sama dan tetap. Maka kaum strukturalis menyibukkan diri dengan menyelidiki struktur-struktur tersebut.

Tokoh-tokoh terpenting strukturalisme adalah Levi Strauss, Jacques Lacan, dan Michael Foulcoult.

G. POSTMODERNISME

Aliran ini muncul sebagai reaksi terhadap modernisme dengan segala dampaknya. Seperti diketahui, modernisme dimulai oleh Rene Descartes, dikokohkan oleh zaman pencerahan (Aufklaerung), dan kemudian mengabadikan diri melalui dominasi sains dan kapitalisme. Tokoh yang dianggap memperkenalkan istilah postmodern (isme) adalah Francois Lyotard, lewat bukunya The Postmodern Condition: A Report on Knowledge (1984).

Modernisme mempunyai gambaran dunia sendiri yang ternyata melahirkan berbagai dampak buruk, yakni :

1. Obyektifikasi alam secara berlebihan dan pengurasan alam semena-mena yang mengakibatkan krisis ekologi. Dampak ini disebabkan oleh pandangan dualistiknya yang membagi kenyataan menjadi subyek-obyek, spiritual-material, manusia-dunia, dsb.

2. Manusia cenderung menjadi obyek karena pandangan modern yang obyektivitis dan positivistis.

3. Ilmu-ilmu positif-empiris menjadi standar kebenaran tertinggi.

4. Materialisme

5. Militerisme

6. Kebangkitan kembali tribalisme (mentalitas yang mengunggulkan kelompok sendiri).

Istilah postmodern di luar bidang filsafat muncul lebih dulu. Rudolf Pannwitz, dalam bukunya tentang krisis kebudayaan Eropa tahun 1947 menggunakan istilah manusia postmodern yang ciri-cirinya sehat, kuat, nasionalistis, religius, yang muncul dari nihilisme dan dekadensi nihilisme Eropa. Ia merupakan cermin kemenangan atas kekacauan yang menjadi ciri kahs modernitas.

Dalam perspektif filosofis istilah postmodern baru digunakan tahun 1979, dan bukan didorong oleh postmodern di Eropa yang berlatarbelakang arsitektur, melainkan dirangsang oleh diskusi tentang problem sosiologis masyarakat postindustri di Amerika Utara.

Ciri-ciri terpenting postmodernisme adalah (1) Relativisme, dan (2) mengakui pluralitas. Pada modernisme, pengetahuan merupakan suatu kesatuan yang didasarkan pada cerita-cerita besar yang menjadi ide penuntun sampai ke penelitian-penelitian yang paling mendetail. Tapi postmodernisme merelatikan semuanya. Menurut para postmodernis, tidak ada suatu norma yang berlaku umum. Tiap bagian mempunyai keunikan sehingga tak dapat menerima pemaksaan ke arah penyeragaman. Dengan demikian, postmodernisme mengakui pluralitas dan hak hidup individu atau unsur lokal (Sugiharto: 1996, 30-33)

Tokoh-tokoh postmodernisme terpenting, selainLyotard, adalah Jacques Drrida, Richard Rorty, dan Michael Foulcoult.

FILSAFAT MASA MODERN

A. IDELISME

Idealisme adalah suatu ajaran/faham atau aliran yang menganggap bahwa

realitas ini terdiri atas roh-roh (sukma) atau jiwa. ide-ide dan pikiran atau yang

sejenis dengan itu.

Aliran ini merupakan aliran yang sangat penting dalam perkembangan

sejarah pikiran manusia. Mula-mula dalam filsafat Barat kita temui dalam bentuk

ajaran yang murni dari Plato. yang menyatakan bahwa alam, cita-cita itu adalah

yang merupakan kenyataan sebenarnya. Adapun alam nyata yang menempati ruang

ini hanyalah berupa bayangan saja dari alam idea itu.

Aristoteles memberikan sifat kerohanian dengan ajarannya yang

menggambarkan alam ide sebagai sesuatu tenaga (entelechie) yang berada dalam

benda-benda dan menjalankan pengaruhnya dari benda itu. Sebenarnya dapat

dikatakan sepanjang masa tidak pernah faham idealisme hilang sarna sekali. Di

masa abad pertengahan malahan satu-satunya pendapat yang disepakati oleh

semua ahli pikir adalah dasar idealisme ini.

Pada jaman Aufklarung ulama-ulama filsafat yang mengakui aliran serba dua

seperti Descartes dan Spinoza yang mengenal dua pokok yang bersifat kerohanian

dan kebendaan maupun keduanya mengakui bahwa unsur kerohanian lebih penting

daripada kebendaan.

Selain itu, segenap kaum agama sekaligus dapat digolongkan kepada

penganut Idealisme yang paling setia sepanjang masa, walaupun mereka tidak

memiliki dalil-dalil filsafat yang mendalam. Puncak jaman Idealiasme pada masa

abad ke-18 dan 19 ketika periode Idealisme. Jerman sedang besar sekali

pengaruhnya di Eropah.

Tokoh- tokohnya adalah :

1. Plato (477 -347 Sb.M)

2. B. Spinoza (1632 -1677)

3. Liebniz (1685 -1753)

4. Berkeley (1685 -1753)

5. Immanuel Kant (1724 -1881)

6. J. Fichte (1762 -1814)

7. F. Schelling (1755 -1854)

8. G. Hegel (1770 -1831)

B. MATERIALISME

Materialisme merupakan faham atau aliran yang menganggap bahwa dunia ini tidak ada selain materi atau nature (alam) dan dunia fisik adalah satu.

Pada abad pertama masehi faham Materialisme tidak mendapat tanggapan

yang serius, bahkan pada abad pertengahan, orang menganggap asing terhadap

faham Materialisme ini. Baru pada jaman Aufklarung (pencerahan), Materialisme

mendapat tanggapan dan penganut yang penting di Eropah Barat.

Pada abad ke-19 pertengahan, aliran Materialisme tumbuh subur di Barat.

Faktor yang menyebabkannya adalah bahwa orang merasa dengan faham Materialisme mempunyai harapan-harapan yang besar atas hasil-hasil ilmu pengetahuan alam. Selain itu, faham Materialisme ini praktis tidak memerlukan dalil-dalil yang muluk-muluk dan abstrak, juga teorinya jelas berpegang pada kenyataankenyataan yang jelas dan mudah dimengerti.

Kemajuan aliran ini mendapat tantangan yang keras dan hebat dari kaum

agama dimana-mana. Hal ini disebabkan bahwa faham Materialisme ini pada abad

ke-19 tidak mengakui adanya Tuhan (atheis) yang sudah diyakini mengatur budi

masyarakat. Pada masa ini, kritikpun muncul di kalangan ulama-ulama barat yang

menentang Materialisme.

Adapun kritik yang dilontarkan adalah sebagai berikut :

1. Materialisme menyatakan bahwa alam wujud ini terjadi dengan sendirinya dari khaos (kacau balau). Padahal kata Hegel. kacau balau yang mengatur bukan lagi kacau balau namanya.

2. Materialisme menerangkan bahwa segala peristiwa diatur oleh hukum alam. Padahal pada hakekatnya hukum alam ini adalah perbuatan rohani juga.

3. Materialisme mendasarkan segala kejadian dunia dan kehidupan pada asal benda itu sendiri. Padahal dalil itu menunjukkan adanya sumber dari luar alam itu sendiri yaitu Tuhan.

4. Materialisme tidak sanggup menerangkan suatu kejadian rohani yang paling mendasar sekalipun.

Tokoh-tokohnya adalah :

1. Anaximenes ( 585 -528)

2. Anaximandros ( 610 -545 SM)

3. Thales ( 625 -545 SM)

4. Demokritos (kl.460 -545 SM)

5. Thomas Hobbes ( 1588 -1679)

6. Lamettrie (1709 -1715)

7. Feuerbach (1804 -1877)

8. H. Spencer (1820 -1903)

9. Karl Marx (1818 -1883)

C. DUALISME

Dualisme adalah ajaran atau aliran/faham yang memandang alam ini terdiri atas dua macam hakekat yaitu hakekat materi dan hakekat rohani. Kedua macam hakekat itu masing-masing bebas berdiri sendiri, sama azazi dan abadi. Perhubungan antara keduanya itu menciptakan kehidupan dalam alam Contoh yang paling jelas tentang adanya kerja sama kedua hakekat ini adalah terdapat dalam diri manusia.

Tokoh-tokohnya adalah :

1. Plato (427 -347 Sb.H)

2. Aristoteles (384 -322 Sb.H)

3. Descartes (1596 -1650)

4. Fechner (1802 -1887)

5. Arnold Gealinex

6 .Leukippos

7. Anaxagoras

8. Hc. Daugall

9. A. Schopenhauer (1788 -1860)

D. EMPIRISME

Empirisme berasal dari kata Yunani yaitu "empiris" yang berarti pengalaman

inderawi. Oleh karena itu empirisme dinisbatkan kepada faham yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengenalanan dan yang dimaksudkan dengannya adalah baik pengalaman lahiriah yang menyangkut dunia maupun pengalaman batiniah yang menyangkut pribadi manusia. Pada dasarnya Empirisme sangat bertentangan dengan Rasionalisme. Rasionalisme mengatakan bahwa pengenalan yang sejati berasal dari ratio, sehingga pengenalan inderawi merupakan suatu bentuk pengenalan yang kabur. sebaliknya Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman sehingga pengenalan inderawi merupakan pengenalan yang paling jelas dan sempurna.

Seorang yang beraliran Empirisme biasanya berpendirian bahwa pengetahuan didapat melalui penampungan yang secara pasip menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini berarti semua pengetahuan betapapun rumitnya dapat dilacak kembali dan apa yang tidak dapat bukanlah ilmu pengetahuan. Empirisme radikal berpendirian bahwa semua pengetahuan dapat dilacak sampai kepada pengalaman inderawi dan apa yang tidak dapat dilacak bukan pengetahuan. Lebih lanjut penganut Empirisme mengatakan bahwa pengalaman tidak lain akibat suatu objek yang merangsang alat-alat inderawi, kemudian di dalam otal dipahami dan akibat dari rangsangan tersebut dibentuklah tanggapan-tanggapan mengenai objek yang telah merangsang alat-alat inderawi tersebut.

Empirisme memegang peranan yang amat penting bagi pengetahuan, malah barangkali merupakan satu-satunya sumber dan dasar ilmu pengetahuan menurutpenganut Empirisme. Pengalaman inderawi sering dianggap sebagai pengadilan yang tertinggi.

Tokoh- tokohnya adalah :

1. Francis Bacon (1210 -1292)

2. Thomas Hobbes ( 1588 -1679)

3. John Locke ( 1632 -1704)

4. George Berkeley ( 1665 -1753)

5. David Hume ( 1711 -1776)

6. Roger Bacon ( 1214 -1294)

E. RASIONALISME

Rasionalisme adalah merupakan faham atau aliran atau ajaran yang berdasarkan ratio, ide-ide yang masuk akal.Selain itu, tidak ada sumber kebenaran yang hakiki.

Zaman Rasionalisme berlangsung dari pertengahan abad ke XVII sampai

akhir abad ke XVIII. Pada zaman ini hal yang khas bagi ilmu pengetahuan adalah penggunaan yang eksklusif daya akal budi (ratio) untuk menemukan kebenaran. Ternyata, penggunaan akal budi yang demikian tidak sia-sia, melihat tambahan ilmu pengetahuan yang besar sekali akibat perkembangan yang pesat dari ilmu-ilmu alam. Maka tidak mengherankan bahwa pada abad-abad berikut orang-orang yangterpelajar Makin percaya pada akal budi mereka sebagai sumber kebenaran tentang hidup dan dunia. Hal ini menjadi menampak lagi pada bagian kedua abad ke XVII dan lebih lagi selama abad XVIII antara lain karena pandangan baru terhadap dunia yang diberikan oleh Isaac Newton (1643 -1727). Berkat sarjana geniaal Fisika Inggris ini yaitu menurutnya Fisika itu terdiri dari bagian-bagian kevil (atom) yang berhubungan satu sama lain menurut hukum sebab akibat. Semua gejala alam harus diterangkan menurut jalan mekanis ini. Harus diakui bahwa Newton sendiri memiliki suatu keinsyafan yang mendalam tentang batas akal budi dalam mengejar kebenaran melalui ilmu pengetahuan. Berdasarkan kepercayaan yang makin kuat akan kekuasaan akal budi lama kelamaan orang-orang abad itu berpandangan dalam kegelapan. Baru dalam abad mereka menaikkan obor terang yang menciptakan manusia dan masyarakat modern yang telah dirindukan, karena kepercayaan itu pada abad XVIII disebut juga zaman Aufklarung (pencerahan).

Tokoh-tokohnya adalah :

1. Rene Descartes (1596 -1650)

2. Nicholas Malerbranche (1638 -1775)

3. B. De Spinoza (1632 -1677 M)

4. G.W.Leibniz (1946-1716)

5. Christian Wolff (1679 -1754)

6. Blaise Pascal (1623 -1662 M)

F. FENOMENALISME

Secara harfiah Fenomenalisme adalah aliran atau faham yang menganggap bahwa Fenomenalisme (gejala) adalah sumber pengetahuan dan kebenaran. Seorang Fenomenalisme suka melihat gejala. Dia berbeda dengan seorang ahli ilmu positif yang mengumpulkan data, mencari korelasi dan fungsi, serta membuat hukum-hukum dan teori. Fenomenalisme bergerak di bidang yang pasti. Hal yang menampakkan dirinya dilukiskan tanpa meninggalkan bidang evidensi yang langsung. Fenomenalisme adalah suatu metode pemikiran, "a way of looking at things".

Gejala adalah aktivitas, misalnya gejala gedung putih adalah gejala akomodasi, konvergensi, dan fiksasi dari mata orang yang melihat gedung itu, ditambah aktivitas lain yang perlu supaya gejala itu muncul. Fenomenalisme adalah tambahan pada pendapat Brentano bahwa subjek dan objek menjadi satu secara dialektis. Tidak mungkin ada hal yang melihat. Inti dari Fenomenalisme adalah tesis dari "intensionalisme" yaitu hal yang disebut konstitusi.

Menurut Intensionalisme (Brentano) manusia menampakkan dirinya sebagai hal yang transenden, sintesa dari objek dan subjek. Manusia sebagai entre au monde (mengada pada alam) menjadi satu dengan alam itu. Manusia mengkonstitusi alamnya. Untuk melihat sesuatu hal, saya harus mengkonversikan mata, mengakomodasikan lensa, dan mengfiksasikan hal yang mau dilihat. Anak yang baru lahir belum bisa melakukan sesuatu hal, sehingga benda dibawa ke mulutnya.

Tokoh-tokohnya adalah :

1. Edmund Husserl (1859 -1938)

2. Max Scheler (1874 -1928)

3. Hartman (1882 -1950)

4. Martin Heidegger (1889 -1976)

5. Maurice Merleau-Ponty (1908 -1961)

6. Jean Paul Sartre (1905 -1980)

7. Soren Kierkegaard (1813 -1855)

G. INTUSIONALISME

Intusionalisme adalah suatu aliran atau faham yang menganggap bahwa intuisi (naluri/perasaan) adalah sumber pengetahuan dan kebenaran. Intuisi termasuk salah satu kegiatan berfikir yang tidak didasarkan pada penalaran. Jadi Intuisi adalah non-analitik dan tidak didasarkan atau suatu pola berfikir tertentu dan sering bercampur aduk dengan perasaan.

Tokoh-tokohnya adalah :

1. Plotinos (205 -270)

2. Henri Bergson (1859 -1994)