Selasa, 16 April 2013

akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih seperti yang dulu ?
seperti saat kita saling bertemu

aku yang tidak terlalu mengenalmu
mencoba menuliskan sesuatu tentang dirimu
sesuatu yang bagiku hanya sendu
tapi ku coba untuk itu

pertemuan itu..

bukan aku yang memaksakan untuk bertemu
tapi...
seni dari cahaya yang menghantarkanku
untuk menemui mu
begitu juga diri mu..

bagai cahaya kilat yang menyambar
kau begitu cepat meninggalkan
tanpa harus ku paksakan
cahaya pun melukiskan

kini ataupun nanti
semua tak ada yang mengetahui
kau pun pergi tanpa arti
dan mungkin kembali tanpa kusadari



Why did you come to KEPRI ?

why did you come to KEPRI ? inilah alasannya...

Mungkin sebagian orang belum kenal dengan salah satu pulau kecil di barat Indonesia. pulau yang sangat dekat dengan negara tetangga, Singapore dan Malaysia. Pulau Bintan namanya. ibu kotanya adalah Tanjungpinang.


Bintan Island
by google photo

Pulau yang luasnya gak bakalan ngalahin gedenya Pulau Dewata - Bali ini memiliki sejuta tempat yang begitu indah untuk dikunjungi. Keindahan pantai yang gak kalah indahnya dengan pulau dewata. Landscape yang indah, tenang, sunyi, sepi, dan jauh dari keramaian akan terus memanjakan mata kita ketika sampai di pulau bintan ini. bagi teman-teman yang ingin liburan, yang ingin menyendiri, yang ingin galau, yang ingin jauh dari keramaian, yang ingin honeymoon pulau bintanlah tempat yang cocok untuk itu semua.


Pulau Bintan Resort 2
by google photo

Pulau Bintan Resort
by google photo


Resort at Bintan 3
by Google Photo
Pulau bintan - KEPRI juga memiliki tempat snorkling dan diving bagi teman-teman penggemar snorkling dan diving. 


Snorkling at Bintan
by Google photo

selain tempat-tempat yang indah, pulau bintan - Kepri juga menjadi tempat kuliner seafood yang sangat nikmat menurut saya.nikmatnya makanan laut alias sea food khas Kepri ini akan memanjakan lidah teman-teman untuk mencicipinya lagi.


Kepiting dan Gong-gong ala Pulau Bintan
by self potrait
oh iya, sampai lupa ngasih tau gimana caranya temen-temen mau ke tempat dimana saya besar ini. gampang kok, teman-teman yang domisilinya di pulau jawa bisa langsung booking tiket pesawat dengan destinasi sebagai berikut:
1. Jakarta - Tanjungpinang
2. Jakarta - Batam
3. Bandung - Batam
Pokoknya kalau teman-teman mau ke Tanjungpinang, kabarin saya aja. kalau ada waktu, saya yang jadi guidenya disana, kalau saya tidak sempat, saya akan kasih tau temen saya yang ada disana.

masih banyak lagi tempat-tempat yang indah di pulau Bintan - Kepri ini. Tempat sejarah pulau penyengat, Lingga, dll sangat menjanjikan buat temen-temen yang ingin datang ke Kepri.

Daripada teman-teman capek membaca tulisan saya yang belum sepenuhnya jadi penulis, nih ada video rekaman tentang pulau bintan. video ini dibuat oleh Melon Lemon. kayaknya temen Dewi Sandra pas berkunjung ke Tanjungpinang - Bintan - Kepri. selamat menikmati.


link videonya


Senin, 15 April 2013

Sinopsis "Memotret Khatulistiwa"



Buku Memotret Khatulistiwa

Membaca buku “Memotret Khatulistiwa” memacu otak kita untuk berpikir mengenai menjadi seorang Jurnalis. Menjadi seorang jurnalis adalah pekerjaan yang susah-susah gampang tapi melelahkan dan seru tentunya. Seorang jurnalis harus siap kapan pun, dimana pun, disaat apapun dan dalam kondisi apapun saat mencari sebuah informasi. Ibarat televisi, harus selalu dalam posisi stand by dan ketika menekan tombol remote satu kali sudah langsung nyala. Namun, dibalik itu semua banyak hal-hal baru yang dapat kita temui, Itulah pengalaman. Pengalaman adalah guru terbaik sepanjang masa, sesuatu yang tidak dapat dibeli atau digantikan oleh apapun didunia ini.
Hal itu lah yang dapat saya lihat dari seorang jurnalis benama Syaiful Halim, dari buku yang ditulisnya “Memotret Khatulistiwa.” Buku ini banyak memberikan informasi mengenai pengalaman-pengalaman seorang jurnalis dalam membuat suatu karya. Karya berupa sebuah film dokumenter yang mengangkat hal-hal yang mungkin mulai terkikis dan terlupakan dari rakyat Indonesia dan dari kekayaan indonesia.
Penulis
Buku ini juga menawarkan empat hal utama, yaitu feature bergenre laporan perjalanan yang murni petualangan, catatan atau produksi film documenter, sekilas etnografi atau penggambaran wajah suku – suku atau etnik di Tanah Air ( kajian ilmu Antropologi) dan pelukisan situs – situs arkeologis dipelosok negeri (kajian ilmu Arkeologi)
Namun yang ingin saya bahas disini bukanlah tentang pengalaman itu, tetapi hasil yang didapat dari pengalaman yang begitu beharga. Karena pengalaman adalah bagian dari proses menuju kesuksesan pencapaian suatu karya, tentunya karya yang dihasilkan bukan karya yang biasa. Tapi karya yang luar biasa.
Film dokumenter yang ingin dihasilkan oleh seorang jurnalis seperti Syaiful Halim tentunya berkualitas dan juga memiliki makna dan informasi yang harus sampai kepada khalayak yang haus akan berita. Untuk itu film dokumenter pun harus mengandung nilai estetika, drama, dan informasi.
Estetika adalah hal yang bekaitan dengan keindahan gambar menurut objek atau teknis pengambilan gambar. Drama menyangkut momen menarik yang dilakukan oleh objek dan kecekatan merekamnya. Sedangkan Informasi cenderung mengungkap data atau pesan yang memang sudah dirancang oleh filmmaker.
Pada bagian scene pembuka misalnya, unsur estetika dan drama disatukan agar kemasan sebuah film menjadi menarik, hal itu bertujuan untuk memberikan umpan kepada penonton agar lebih tertarik dan untuk menambah minat penonton terhadap film yang dibuat. Angle pengambilan gambar pun juga harus diperhatikan, kameramen harus mengerti angle yang seperti apa yang akan meghasilkan gambar yang lebih dramatis, sehingga gambar benar-benar dapat mencerminkan kejadian yang sesungguhnya.
Ketika membuat film dokumenter tentunya narasumber berperan penting dalam memberikan informasi yang dibutuhkan. Namun terkadang batasan durasi saat narasumber berbicara didepan kamera hanya akan memenggal informasi-informasi penting dan pemaksaan pesan melalui narasi. Tidak dipungkiri juga bila terlalu lama “memampang” wajah narasumber akan membuat penonton menjadi bosan. Memasukan penggalan gambar ditengah wawancara (visual insert).
Setela kutipan-kutipan wawancara dikumpulkan barulah kemudian penulisan postproduction treatment script. Si penulis naskah harus kembali mengingat momen-momen yang telah didapatkannya selama proses pembuatan film dilakukan. Terkadang pola kerja ala cinema veritee atau direct film harus dilakukan.
Naskah bukan hanya uraian yang berbuih-buih. Tapi juga menghadirkan rencana gambar dan suara secara sequence by sequenc sehingga menjadi sequence bukan scene. Disana, harus diperlihatkan bagian mana musik illustrasi dihadirkan, efek suara dimunculkan, dan natural sound dimaksimalkan. Disana juga harus ditunjukkan juga, dibagian mana terjadi transisi, kapan efek transisi dibuat, dan bagaimana flow cerita diatur.
Pola struktur naratif, dengan pembukaan, pengembangan, dan penutup sudah menjadi hal yang standar. Terlebih lagi bila menjadikan narasi sebagai alat cerita. Tujuannya untuk menghadirkan dua premis dengan dua struktur cerita. Sebenarnya seorang filmmaker telah merancang pola dramatiknya. Karena penonton pun ditantang untuk menebak akhir atau klimaks film dokumenter tersebut.
Begitu panjang proses yang harus dilakukan untuk mengasilkan sebuah film dokumenter yang berkualitas, melibatkan banyak pihak dan banyak tempat. Oleh sebab itu kerjasama didalam tim sangat berpengaruh terhadap keberhasilan suatu karya yang dibuat. Menyatukan berbagai ide dan cara perpikir yang berbeda adalah hal yang sangat sulit, karena itu kameramen, sutradara dan bagian editing harus solid
Menurut Syaiful Halim, membuat sebuah film dokumenter dengan tema apapun sebenarnya bukan hal sulit. Namun ketika sebuah film dokumenter yang disiapkan adalah untuk sebuah program televisi yang biasanya dikawal oleh frame atau pakem tertentu maka itu menjadi hal yang sulit bagi filmmaker.

Sabtu, 13 April 2013

Take Me Away to BRAGA

Take Me Away
JL. Braga
Kali ini saya bersama-sama teman workshop Creative Academy menelusuri Jl. Asia Afrika dan JL.Braga Bandung. Niatnya sih hunting foto sama om Jerry Aurum (professional photographer), karena kita semua sudah dipinjemin camera DSLR, tapi ternyata kenyataannya berbeda. kita tidak hunting bareng tapi hunting sendiri-sendiri. gak tau kenapa.. mungkin karena keindahan bangunan di Braga membuat mata tidak berhenti berkedip.

Jendela Exsport
Mendengar nama Braga pasti kita semua sudah mengenalnya. Braga sangat dikenal dengan bangunan bersejarahnya. kalau istilah asingnya itu "bangunan Art Deco". Berada di Braga serasa berada di suatu tempat yang bisa membawa kita kembali ke masa tahun 1950-an. Berada di Braga dapat memberikan sebuah kenangan kita kepada masa penjajahan Belanda. Berada di sana bisa memberikan suatu rasa tertentu pada kota Bandung.

Oke, biar gak dibilang banyak ngomong, saya langsung saja memulai perjalanan di Braga. semoga teman-teman bisa menikmatinya.

Hal yang pertama saya dokumentasikan setelah landing (baca:tiba) di samping sungai Cikapundung adalah atap dari sebuah bangunan yang menurut mata hati saya sangat menarik dan indah. Angle yang sederhana namun bisa memberikan sebuah makna tertentu bagi saya.

Sebuah gedung yang diberi nama "Puwnten" Paguyuban Warga Banten. Sekitar tahun 2009, bangunan tersebut kurang terawat (tidak seindah sekarang). Namun sekarang bangunan tersebut sangat indah dan terawat dan menampilkan sebuah sisi "Art Deco" peninggalan Belanda.

Gedung PuWnten

Objek kedua yang saya capture dari camera saya adalah jendela dari Gedung Merdeka di Jl. Asia Afrika. Bagi saya, jendela ini sangat menarik. Banyak yang berkunjung kesana hanya untuk sekedar narsis dan self potrait, namun ada juga yang menyempatkan diri untuk memasuki museum konferensi Asia afrika tersebut untuk menambah ilmu pengetahuan kita tentang sejarah yang khususnya tentang konferensi Asia Afrika.
Jendela Braga

sisi lain dari gedung merdeka yang saya abadikan.
Gedung Merdeka


Pintu Braga

setelah muter-muter di sekitaran Gedung Merdeka dan Konferensi Asia Afrika, saya lanjut ke Jl. Braga. Di Jl. Braga kita bisa melihat beberapa aktifitas manusia, mulai dari berfoto, ada yang ngamen, ada yang melukis dan ada juga penjual lukisan, ada penjual pernak pernik, terus ada juga yang hanya sekedar nongkrong untuk menikmati suasana indahnya Jl. Braga. Namun, dimata saya ada hal yang sangat menarik selain itu semua, yaitu bangunan-bangunan dengan nuansa Art Deco. Mata saya mulai merasakan nikmatnya melihat keindahan-keindahan dari bangunan tersebut. Memandanginya dari sudut pandang yang berbeda, membuat saya tartarik untuk mengabadikannya melalui lensa camera saya.


Gedung Gas

Pintu Braga 2

Tan De Bekker

Celebrate of Color

KOFFIEHUIS

Jendela Braga

Seperti To Cool

okee, itulah beberapa hasil jepretan saya selama 1 jam di Braga. satu lagi hal yang ingin saya sampaikan, di Braga, selain melihat historical dari braga itu sendiri, Braga juga memberikan nuansa romantis kepada kita yang berkunjung kesana dengan kekasih yang kita cintai.

mudah-mudah dengan tulisan dan beberapa foto saya ini, banyak teman-teman yang ingin sekali berkunjung ke kota Bandung dan khususnya ke Jl. Braga, dan semakin bergairah untuk mengunjungi tempat-tempat diseluruh Indonesia.