Sabtu, 21 November 2009

Tata Kota Yang Kurang Efisien

Saat pertama kali menginjak kota Bandung, langsung saja aku berpikir bahwa kota ini adalah kota yang sangat nyaman, tentram, sejuk, adem, gak macet, dan lain sebagainya. Semua persepsi positif tentang kota Bandung itu timbul begitu saja dibenak dan pikiranku.. Seiring berjalannya waktu, ternyata semua persepsi positif tentang kota Bandung yang telah timbul itu, satu – persatu berganti sebaliknya. Ternyata semuanya gak seperti apa yang ada dipikiranku. Kota Bandung yang aku perkirakan tentram, nyaman, sejuk, adem, dan gak macet itu ternyata setelah 1,5 tahun menetap di Bandung gak seperti itu lagi. Kota Bandung mulai panas, kenyamanan berkurang, gak adem lagi, dan macet parah. Gak tau kenapa semua itu bisa terjadi pada kota Bandung tercinta ini. Menurut saya mungkin ini berawal dari tata kota yang kurang efisien. Maksudnya tata kota yang kurang efisien disini bisa saja suatu pembangunan baik itu jalan, bangunan (gedung, rumah, Mall, pasar, dan lain sebagainya), dan penempatan yang tidak merata untuk semua hal itu. Pemerintah mungkin sering melupakan hal – hal kecil seperti yang diatas. Pemerintah gak pernah berpikir apa akibat dari yang telah mereka lakukan. Meraka hanya memikirkan pemasukan untuk APBN dan APBD. Mereka bisa melakukan pembangunan dimana saja. Contonya saja pembangunan Mall Balubur di bawah FlyOver yang terletak di jalan Tamansari tersebut. Ini pembangunan yang menurut saya tempat dan lahannya maksa banged. Mereka tidak pernah berpikir apa akibat dari itu. Sebelum dibangun saja, jalan itu sudah macet, apalagi setelah dibangun nanti. Pasti tambah macet. Kita bisa lihat seperti gambar dibawah ini.
Hal – hal kecil ini yang telah dilupakan oleh pemerintah. Mereka membangun hanya di satu tempat (pusat kota) saja, sehingga kemacetan dan segala macam akibat yang lainnya akan timbul didaerah tersebut. Padahal jika dibiarkan lahan tersebut kosong, pasti akan mengurangi macet. Apalagi jika lahan tersebut di tanami pepohonan. Itu akan membuat kota bandung sejuk kembali. Meraka tidak pernah berpikir untuk membangun di lahan – lahan yang masih sedikit pembangunannya (lahan kosong), sehingga jika di bangun didaerah tersebut, tata kota akan lebih efisien dan merata, penempatan penduduk juga akan merata sehingga kemacetanpun bisa berkurang. Tidak hanya itu saja, kita juga bisa lihat dari pembangunan perumahan. Semuanya juga terpusat pada satu titik. Lihat saja gambar dibawah ini :
Gambar ini saya ambil dari atas FlyOver Pasopati. Coba kita lihat. Banyak sekali rumah – rumah yang dibangun. Mungkin jarak antara rumah satu dengan yang lainnya tidak lebih dari 5m. Jalan – jalan antara rumah - kerumah tersebut, tidak lebih dari 2m. Atau sering kita sebut jalan tikus. Coba kita lihat kembali dengan baik – baik. Sungguh tidak efisiennya hal ini. Pemerintah dari awal mungkin lupa dengan apa akibat dari ini semua. Bisa saja akibatnya terciptanya lahan – lahan kumuh seperti di Jakarta, penyebaran penyakit yang sangat cepat, banjir, dan lain sebagainya. Hal - hal kecil ini yang telah dilupakan pemerintah kita. Sungguh sangat disayangkan sekali.
Semoga hal ini tidak akan terjadi pada waktu kedepan. Seharusnya pemerintah kita meratakan pembangunan ini. Pemerintah bisa membangun di lahan – lahan kota yang masih kurang dengan pembangunan. Tidak lagi di lahan – lahan yang sudah padat akan bangunan. Hal ini mungkin akan bisa menciptakan kembali kota Bandung yang nyaman, tentram, sejuk, dan tidak macet. Bukan hanya pemerintah yang dapat melakukan ini. Tetapi kita juga, karena semua juga berawal dari diri kita masing – masing...